Sore itu, ditengah hujan yang lebat dan bergemuruh. Seorang wanita mengendarai mobil sembari menangis usai menghadiri sidang perceraian di masa hamil usia 28 minggu. Tangisnya sangat berat, namun ia mencoba kuat, mengingat posisinya saat itu memasuki trimester ketiga yang sejatinya butuh pendamping saat masa masa sulit. Namun apadaya, yang ia terima justru kebalikannya. Harus berjuang sendiri bersama calon buah hati.
Aku memanggil dia dengan sebutan ibu.
Sore itu pula aku terlahir di muka bumi. Kesedihan tengah melanda akibat perceraian, disaat yang sama juga Ibuku mengalami kecelakaan tunggal. Aku terpaksa dilahirkan mengingat keselamatan ibu dan anak karena imbas kecelakaan yang membuat Ibu mengalami Abruptio plasenta yang membuatnya harus segera melakukan operasi cecar karena perdarahan hebat disebabkan lepasnya plasenta yang merupakan impact dari kecelakaan tersebut.
Beruntungnya Ibu dan aku selamat.
Selama ini Ibu dan Aku tinggal bersama Kakek. Kakek berprofesi sebagai seorang dokter yang kebetulan juga bekerja di rumah sakit di tempat dimana Ibu dioperasi. Kakek ikut menangis kala itu melihat anaknya terbaring sendiri. Namun bersyukur karena keduanya bisa diselamatkan, ditengah situasi yang memilukan.
Seminggu Ibu dan Aku diopname di rumah sakit. Kondisi kami sangat lemah pasca melahirkan. Saat itu seorang pria yang harusnya bertanggung jawab atas kelahirannku tidak pernah muncul batang hidungnya. Bahkan sampai kami diizinkan pulang oleh rumah sakit. Dimasa sulit itu kakek memberikan sebuah nama kepadaku.
"Abram Braja Astika" Sembari meniatkan dalam hati "akan ku jaga dirimu wahai anak yang kuat". Arti namanya menurut kakekku cukup sesuai karena aku dengan percaya dirinya terlahir ditengah badai kehidupan.
Hidup ditengah kasih sayang Kakek.
Abram Braja Astika. Dia tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Suatu keajaiban baginya, mengingat proses kelahirannya yang prematur tumbuh kembangnya dapat mengejar kelahiran normal. Itu semua tidak terlepas dari peran Kakeknya. Ia selalu memantau asupan gizi cucu dan anak semata wayangnya sehingga ibu dan anak selalu sehat.
Waktu berlalu hingga Abram kecil sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Anak anak di masa ini sangat aktif dan ceria. Rasa ingin tau akan segala hal sangat besar. Terlihat ketika dia bertanya, mengapa ikan tidak tidur, bagaimana cara semut berbicara, atau apa yang terjadi ketika matahari tidak ada. Ketika dia ditanya oleh ibu guru apa cita-citanya, lantas ia menjawab "menjadi pilot bu". Semua teman-teman dan ibu guru pun mengemangatinya. Abram kecil menjadi idola karena kecerdasannya di atas rata-rata. Mungkin akibat dia sering sekali berbicara tentang segala hal dengan kakeknya.
Kemalangan masih berlanjut.
Kakek menjadi sosok seorang " ayah" bagi Abram kecil. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Saat Abram akan masuk sekolah dasar, Kakek dia, keluarga satu-satunya yang selalu menemani masa kecilnya harus berpulang terlebih dahulu. Duka yang sangat mendalam diterimanya saat itu.
Pada saat itu Ibunya sedang menjalani dinas ke Malaysis. Mengurus kasus TKI yang akan di deportasi bersama rekan kantornya di Kemenlu. Mendengar kabar tersebut, dia memutuskan pulang. Satu hal yang dipikirkannya sekarang, bagaimana keadaan anakku sekarang.
Kakeknya mengalami serangan jantung. Setelah ia dan cucunya menyelamatkan diri dari kepulan asap kebakaran. Kedai makanan di samping rumahnya terbakar dan menyebabkan sebagian rumahnya ikut terbakar.
Selama dua hari kakeknya berada di ruang ICU dan pada akhirnya takdirpun berkata lain. Untuk sementara Abram diungsikan di rumah guru tk tempat ia belajar yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Ia disana sembari menunggu kepulangan Ibunya. Mengingat di tempat ia tinggal tidak ada satupun keluarganya disana. Dalam hati Abram berharap "Ibu cepatlah pulang".
Setibanya Ibu di Indonesia ia kemudian bergegas ke TPU Tanah Kusir dimana Kakek akan dimakamkan. Ini merupakan permintaan Kakek sendiri semasa hidupnya untuk dimakamkan disini, tepat disamping Nenek yang sudah lebih dulu pergi satu tahun sebelum kelahiran Abram.
Bertahan dimasa-masa sulit.
Kesulitan demi kesulitan silih berganti menghampiri. Keluarga kecil ini tengah berjuang keras membuat kehidupan kembali normal. Rumah yang hampir terbakar habis dijual cepat dengan harga murah oleh Ibu. Ini dilakukannya karena bagi dirinya sangat sulit untuk merenovasi rumah ini dengan modal terbatas. Kemudian jika tidak cepat dijual akan semakin tidak laku karena nanti akan melekat julukan rumah hantu karena terbengkalai.
Untuk sementara mereka berdua tinggal di rumah kost dibelakang kantor tempat Ibu bekerja di Kantor Kemlu RI. Ia memutuskan tinggal disitu karena lingkungan kost yang cukup dikenal karena para penghuninya merupakan teman sekantornya.
Sebagai single parent Ibu harus berjuang lebih keras untuk membesarkan Abram kecilnya. Sebelumnya ia sangat terbantu oleh Ayahnya namun kini sedikit demi sedikit pikirannya menjadi sangat bercabang antara pekerjaan, mengurus anak dan yang lainnya. Kesibukan dalam pekerjaannya saat ini memungkinkan Abram kecil akan kehilangan sentuhan kasih sayang keluarga.
Kedewasaan diatas rata-rata berkat sang Kakek.
Beruntungnya Abram cukup tegar dan dewasa menghadapi cobaan yang menghapiri. Mengingat usianya yang akan memasuki sekolah dasar, ia tidak meminta macam macam seperti anak seumuran Abram lainnya. Didikan Kakeknya sangat berguna bagi Abram karena ia tumbuh menjadi anak yang sederhana. Walaupun ia sangat dimanja olehnya, ia selalu ditanamkan bagaimana rasa bersyukur apapun hal yang ia akan hadapi di depan, baik itu kesenangan atau kesulitan.
Berdasarkan saran dari teman sekantor Ibu, Abram didaftarkan di sekolah dasar sekitaran Menteng karena tidak terlalu jauh dari rumah kost tempat ia tinggal. Setiap pagi Abram selalu diantar oleh Ibunya kesekolah dan jika waktunya pulang Ibunya akan izin keluar kantor dan menjemput Abram mengantar kerumah dan kembali lagi ke kantor. Tidak jarang pula Abram ikut dibawa ke kantor sembari menunggu jam pulang.
Orang-orang di kantor cukup mengerti keadaan mereka sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan aktifitas ibu dan anak ini mengingat reputasi baik yang sudah Ibu bangun dan juga Abram yang tidak pernah rewel ketika berada di kantor. Dari sini justru Abram belajar bagaimana kehidupan orang dewasa, tentunya dengan sudut pandang kacamata anak-anak.
Cobaan semakin berat.
Ibu tak bisa tidur malam ini, bukan karena suara bising tetangga kamar kost nya yang sedang ada tamu. Tetapi karena keputusannya beberapa tahun yang lalu untuk menikah. Hidupnya benar-benar sangat berubah. Saat itu ia berpikir menikah merupakan hal bahagia yang diidam-idamkan setiap orang. Hal yang tidak boleh berulang saat dilakukan. Karena ucap manis janji setia sehidup semati.
Namun takdir berkata lain. Janji setia pun hancur. Ku mencari bahagia, bukan petaka. Ku ingin kasih sayang, bukannya hilang. Tangisnya malam itu pecah kembali. Menjadi wanita seutuhnya itu berat sekali pikirnya. Bukan kecantikan tujuan utama ternyata, tetapi harga diri yang harus dijaga, terlebih kini ia adalah seorang Ibu. Ibu yang anaknya sudah mulai sekolah. Sudah mulai mengerti akan banyak hal. Sudah mulai penasaran tentang kehidupan. Sudah mulai bertanya dengan mantap, "Bu sebenarnya Ayahku siapa, sekarang dimana?".
Pertanyaan yang mengganjal hati.
Abram bertanya seperti itu karena sebelumnya ada acara pertemuan orang tua dan anak di sekolah. Cukup unik memang acara tersebut. Setiap anak diminta tampil di depan orang tua murid yang hadir untuk menceritakan tentang dirinya, mulai dari hobi, kesukaan dan keterampilan. Selain melatih kepercayaan diri pada anak. Hal tersebut juga merupakan momen untuk mendekatkan orang tua dengan anaknya. Karena orang tua maupun pihak sekolah ingin hasil yang terbaik untuk anak-anaknya.
Acara tersebut dilaksanakan pada tengah semester di semester ke dua. Anak-anak saling bergantian untuk tampil di ruang kelas. Ruangan itu cukup untuk semua orang yang hadir. Abram maju tidak yang paling pertama. Urutan maju bukan berdasarkan absen seperti tetapi berdasarkan urutan tanggal lahir. Ia lahir di Januari. Ada tujuh anak lahir di bulan itu dan Abram ada di urutan ke tujuh.
Tiba saatnya Abram maju, dengan mudahnya ia memperkenalkan diri dan keluarga, bercerita bagaimana ia lahir, peristiwa senang dan sedih yang sudah ia rasakan. Cerita ia sampaikan lancar sekali. Terutama kejadian pindah rumahnya karena memang belum genap satu tahun itu terjadi.
Anak yang lain diminta bertanya setelah seseorang selesai berbicara. Tiba saatnya waktunya teman-temannya bertanya. Rata-rata semua orang tertarik dengan cerita terbakarnya rumah yang Abram tinggali dulu. Namun ada satu pertanyaan yang membuat Abram terdiam sejenak, dan menjawab dengan singkat dan pelan "aku tidak punya ayah". Jawaban itu muncul karena dalam cerita yang ia sampaikan tidak ada satu kalimat ayah atau memperkenalkan siapa ayahnya. Setelah Abram selesai tampil, semua orang pun bertepuk tangan. Esoknya teman yang bertanya hal tentang ayah meminta maaf pada Abram karena bukan maksudnya membuat Abram bersedih oleh hal yang ia alami tersebut.
Abram memang anak yang supel, sederhana, baik dan pintar. Tidak heran rasanya murid yang lain mengidolakannya dalam hal pertemanan. Namun setelah hari itu Abram menjadi sering melamun. Rasa penasaran menyelimuti dia seketika. Sampai pada saatnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada Ibunya di malam itu "Bu sebenarnya Ayahku siapa, sekarang dimana?".
Pertemuan yang tidak direncanakan.
Suatu hari Abram sedang duduk di lobby kantor sembari menunggu Ibunya. Tidak lama datang seorang pria berparas Mestizo Spanyol-Amerika berambut pirang sebahu seperti Brad Pitt di film World War Z yang semalam ditonton Ibunya menyapa Abram, "Hello boy, selamat sore" dia menyapa akrab dengan sedikit logat asingnya. "Selamat sore Om..." Abram membalas sapaannya dengan ragu "Bolehkah saya duduk disini?" tanyanya kepada Abram. "Silahkan" jawab Abram singkat.
Tidak lama Ibu datang menghampiri Abram dan mengajak Abram pulang. Setelah sadar Ibu kenal dengan orang di samping Abram kemudian ia pun menyapanya "Hello Adrian? lama tidak jumpa" sapa Ibu dengan akrab. "Oh hello Tika, baik. Setelah berbincang selama beberapa menit kemudian merekapun pulang.
Kebenaran pun sedikit terungkap.
Saat di rumah, Ibu pada akhirnya mulai bercerita kepada Abram tentang dirinya dan ayahnya yang bernama Mandala Yudha. Ibu mulai cerita dimana dia bertemu dengan Ayahnya dan pada akhirnya menikah. Ibu bertemu dengan Ayah pada saat mendampingi duta besar Amerika ke Solo pada tahun 2013 di Museum Batik Danar Hadi. Saat itu Ayahnya sedang berlibur mengunjungi rumah orang tuanya di Solo. Kebetulan mereka berpapasan di depan Museum. Entah apa yang mendasari, tiba-tiba Ayah meminta nomor hp ke Ibu dengan alasan tertarik dengan kegiatan USAID, lembaga Amerika yang kebetulan Ibunya Abram bertugas mendampingi mereka. Adrian adalah staff USAID saat itu, pria yang mengobrol dengan Ibu di lobby kantor tadi siang. Melalui ibu, Ayah dan Adrian pun berkenalan saat itu. Karena komunikasi yang intens mereka berdua akhirnya berpacaran dan pada akhirnya mereka menikah di bulan Mei 2017.
Pada awalnya pernikahan mereka berjalan dengan harmonis, Ayahnya merupakan sosok yang perhatian. Namun setelah empat bulan usia pernikahan Ayahnya seperti menyembunyikan gelagat yang aneh. Tiba-tiba ia menjadi orang yang tempramental. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi tanpa dasar yang jelas. Ibu yang cukup keras pun pada akhirnya membuat situasi tersebut menjadi "medan perang". Api dibalas api pada akhirnya akan membesar. Ibu memutuskan untuk pulang ke rumah Kakek.
Setelah ditelusuri ternyata Ayah menggunakan obat terlarang untuk menahan sifat tempramentalnya selama dua tahun belakangan. Dia dikenalkan oleh seseorang di Las Vegas pada tahun 2015. Dua tahun kemudian efek samping mulai terasa dan kehidupannya tidak lagi sama disetiap harinya. Kakek yang tidak ingin hal hal buruk terjadi pada anak dan calon cucu nya meminta Ayah untuk pulang ke Solo. Dan setelah diskusi besar kedua keluarga tersebut memutuskan untuk berpisah. Keputusan yang berat, namun itulah yang terbaik. Mengingat dampak negatif obat terlarang nyata adanya, dan butuh keseriusan lebih untuk orang yang dasarnya lemah untuk bisa sembuh. Ibu memang tidak menerima itu pada awalnya, namun kasih sayang yang lebih besar pada ku menyebabkan hari demi hari kedepannya adalah perjuangan untuk membesarkan ku.
Setelah sidang perceraian terakhir awal bulan Januari Ayah tidak terlihat lagi bahkan keluarganya di Solo pun tidak dapat dihubungi. Begitulah cerita Ibu kepada Abram. Dia memahami seluruh cerita dan perkataan Ibu dan seluruh isinya. Karena semasa kakek nya hidup, beliau sudah menceritakan tentang apa itu obat terlarang dan apa bahayanya kepada Abram karena Abram kecil penasaran dengan berita tentang pengungkapan sindikat pada tahun 2023. Merasa Abram lebih cepat paham, kakek bercerita sejelas jelasnya dan berpesan kepada Abram untuk menjauhi bahkan kalau bisa untuk tidak mengenal hal tersebut di luar sana pada saat sudah lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir, sematkan komentar jika berkenan. Have a nice day!