Kesulitan demi kesulitan silih berganti menghampiri. Keluarga kecil ini tengah berjuang keras membuat kehidupan kembali "normal". Rumah yang hampir terbakar habis dijual cepat dengan harga murah oleh Ibu. Ini dilakukannya karena bagi dirinya sangat sulit untuk merenovasi rumah ini dengan modal terbatas. Kemudian jika tidak cepat dijual akan semakin tidak laku karena nanti akan melekat julukan rumah hantu karena terbengkalai.
Untuk sementara mereka berdua tinggal di rumah kost dibelakang kantor tempat Ibu bekerja di Kantor Kemlu RI. Ia memutuskan tinggal disitu karena lingkungan kost yang cukup dikenal karena para penghuninya merupakan teman sekantornya.
Sebagai single parent Ibu harus berjuang lebih keras untuk membesarkan Abram kecilnya. Sebelumnya ia sangat terbantu oleh Ayahnya namun kini sedikit demi sedikit pikirannya menjadi sangat bercabang antara pekerjaan, mengurus anak dan yang lainnya. Kesibukan dalam pekerjaannya saat ini memungkinkan Abram kecil akan kehilangan sentuhan kasih sayang keluarga.
Beruntungnya Abram cukup tegar dan dewasa menghadapi cobaan yang menghapiri. Mengingat usianya yang akan memasuki sekolah dasar, ia tidak meminta macam macam seperti anak seumuran Abram lainnya. Didikan sang kakek sangat berguna bagi Abram karena ia tumbuh menjadi anak yang sederhana. Walaupun ia sangat dimanja oleh kakeknya, ia selalu ditanamkan bagaimana rasa bersyukur apapun hal yang ia akan hadapi di depan, baik itu kesenangan atau kesulitan.
Berdasarkan saran dari teman sekantor Ibu, Abram didaftarkan di sekolah dasar sekitaran Menteng karena tidak terlalu jauh dari rumah kost tempat ia tinggal. Setiap pagi Abram selalu diantar oleh Ibunya kesekolah dan jika waktunya pulang Ibunya akan izin keluar kantor dan menjemput Abram mengantar kerumah dan kembali lagi ke kantor. Tidak jarang pula Abram ikut dibawa ke kantor sembari menunggu jam pulang kantor.
Orang-orang di kantor cukup mengerti keadaan mereka sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan aktifitas ibu dan anak ini mengingat reputasi baik yang sudah Ibu bangun dan juga Abram yang tidak pernah rewel ketika berada di kantor. Dari sini justru Abram belajar bagaimana kehidupan orang dewasa, tentunya dengan sudut pandang kacamata anak-anak.