kegiatan gue

kegiatan gue
From Mt. Sumbing With SR

Sabtu, 19 Oktober 2024

Poligon


Jika setiap sudut adalah kenangan,
Setiap sisi adalah perjalanan,
Setiap titik adalah persimpangan,
Dimanakah akhir dari kehidupan?

Kehidupan mungkin membentuk sebuah poligon.
Sebanyak apapun sudut yang dibentuk,
Sepanjang apapun sisi yang digaris,
Sebanyak apapun titik yang dibuat,
Di mana kita memulai, di situlah tempat kita berhenti.

Mengenang butuh jarak agar sudut terlihat jelas.
Memandang tajam tumpulnya kehidupan,
Semakin samar saat jauh perjalanan,
Namun tetap terasa saat ingatan menyentuh aras jiwa.

Saat lelah, beberapa kali ku berhenti,
Sekadar membuat tanda titik persimpangan,
Atau menjaga poligon yang lain.
Merefleksi, terkadang mawas diri,
Melihat pertanda poligon tertutup,
Namun tetap berdoa, sambil bertanya, apakah ini waktunya?

Marah,
Takut,
Khawatir,
Merenung,
Berdoa.

Saat takdir begitu jelas terlihat,
Kedekatanku seperti akan berakhir cepat.
Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi,
Marahku mengingatkan tanda peduli,
Takutku akan sesuatu yang terjadi.
Merenung sejauh mana hubungan dibuat,
Berdoa agar selalu dalam lindungan.

Ikhtiar sudah dilakukan,
Impian sudah dibayangkan,
Semangat sudah ditularkan,
Tegar, ku sudah siap.
Jendela kubuka lebar,
Cahaya matahari pagi menyinari mata.
Bertanya kepada-Nya,
Apakah ini mentari pagi terakhir dalam hidupnya?
Polygon tertutup sempurna pagi ini, jawab-Nya

Hari berlalu, satu poligon tertutup sempurna.
Ku berjaga setiap malam di samping poligon yang tersisa.
Menengok, memastikan sisi masih tergaris.
Kekhawatiran tetaplah ada,
Namun saat kurasa akan baik-baik saja,
Pagi hari keesokannya, poligon kembali tertutup,
Padahal sebelumnya ku bertanya, maukah ku temani lagi esok malam?

Aku tahu betul rasanya sepi,
Aku tahu rasanya merenungi,
Terlebih malam terasa panjang saat sepi.
Saat itu, kepala terasa penuh,
Emosi terasa peluh.

Iya, jawabannya padaku saat itu.

Ikhtiar sudah dilakukan,
Impian sudah dibayangkan,
Semangat kebangun ulang,
Poligon yang tertutup kembali terulang.

Kucoba tegar, namun sempat buyar,
Kembali terasa dalam kedipan mata.
Tidak berjarak, dalam sentuhan,
Terlihat mimpi, namun nyata adanya.

Kusudah lalui semua.
Waktunya kembali pada poligon diri.
Jauh dan dekat, tidak ku ketahui,
Namun yang pasti, kucoba berjalan kembali.
Membentuk garis poligonku sendiri.

Rabu, 16 Oktober 2024

Tarian Perpisahan di Peron Kereta

Dibalutkan kain hijau
Dan untaian melati
Menari mengelilingi
Aku yang hanya bisa terbaring

Menutupi mata seolah olah tertidur
Mencoba membuka sebelah mata
Mengagumi sembari seolah tak terima
Dengan sebuah keputusan di secarik kertas

Di depan stasiun tua

Terlihat gedung putih

Dia menari dengan luwesnya
Kain panjang menyentuh lantai
Gemericik menyentuh lantai
Mengenai ujung kaki membuat ku bangun

Tiba-tiba tarian terhenti
Meninggalkan kayu berbentuk spiral
Dengan lekukan  di setiap ujungnya
Kemudian ku mencari kemana

Ku bergegas pergi

Mengisi energi membangunkan seseorang
Dengan balutan kain biru
Yang baru ku sadar
5 jam melindungiku
Dari derasnya hujan  di peron kereta
Melepaskan seluruh ingatan yang tersisa
Berubah menjadi guguran bunga yang beterbangan

Hilang


Mungkin rasa
Atau asa
Sudah biasa
Luka terbalut kasa

Sedang menepi
Meratapi
Unggunan mimpi
Terbakar api

Teringat sangat
Terdengar ingar
Terlihat pekat
Teraba, hilang tak tentu rimba

Untuk apa aku disini
Untuk siapa nyalanya api
Untuk bertanya kepada diri
Kapan hilang tajamnya belati

Kumengais diri
Tanpa arti
Karena melati
Layu tersengat matahari

Hingga kapan
Mungkin hilang 
Sebilangan Keraguan
Penuh bimbang


Sabtu, 12 Oktober 2024

Hujan Terakhir di Januari

Januari
Akankah berjumpa kembali
Tidak banyak yang berubah dariku
Dunia pun masih tetap sama

Memang banyak yang terjadi
Hilangnya satu persatu pelita
Habisnya bahan bakar
Pasang surutnya nestapa
Kalau diingat ingat
Seperti inilah alur ceritaku 
Sedari daun daun di pohon masih lengkap 
Hingga menyisakan aku sendiri di ujung ranting

Mengingat yang lalu memang tiada habisnya 
Tidak akan bisa diraih namun masih bisa dirasakan
Terkadang arus sungai tak terbendung
Tapi kehidupanku harus tetap berjalan

Yang kurasakan hal baik dan buruk akan selalu datang
Tidak mengenal kita siap atau tidak
Hal baiknya terlihat sedikit 
Namun sebenarnya sangat luas 
Namun seperti savana yang  tersembunyi di balik bukit

Dari banyak kepingan film terbuka
Memilih adalah hal yang tersulit 
Pertunjukan sudah dimulai hampir tiga dekade
Tanpa persiapan yang matang
Aku hanya bisa memutar film secara acak
Kadang aku senang, lebih banyak kecewa
Mungkin seleraku dalam memilih perlu diperbaiki
Kerap kali hampa saat kisah sedih diputar
Hanyut dalam post series depresion 

Januari kala itu sedang hujan
Tanpa angin tanpa kilatan petir
Namun deras membasahi kebun anyelir
Menunda mekarnya bunga bakung

Hujan kala itu ternyata bercerita 
Kekecewaan hanya akan mendatangkan kekecewaan yang baru
Diatas semua harapan semu aku kembali berharap
Nyatanya harapan itu tidak akan pernah terwujud 
Itulah cerita hujan yang coba iya sampaikan 

Saat ku terbangun sekarang
Derasnya hujan masih membasahi kulit
Hujan kesedihan ternyata sangat awet
Ada saja hal baru disetiap perputarannya

Hujan terakhir di Januari mengingatkanku kini
Mintalah kebaikan ditengah hujan
Agar air bisa memadamkan
Agar air bisa melegakan
Agar air tetap memberikan kehidupan
Agar air mata bisa merelakan