kegiatan gue

kegiatan gue
From Mt. Sumbing With SR

Minggu, 08 November 2020

Dua sisi

Hai langit, apa kabarmu? 
Sudah lama tak kudengar tentangmu
Apakah dinginnya angkasa membuat harimu indah? 
Atau hamparan bintang membuatmu ceria? 

Ku masih ingat terakhir kali kita pertatap mata
Sinar matahari menerangi kita
Penuh harap, semangat dan doa
Menutup pertemuan karena kau jauh disana

Hai langit, sepertinya manusia bukan makhluk yang baik
Kerap kali ia ingkari janji
Padahal dia hidup karena sebuah ikatan janji
Atau dilandasi kepercayaan yang telah dibangun

Hai langit, kini ku penuh sesak
Diriku tak seluas dirimu
Yang terus mengembang dari waktu ke waktu
Mencapaimu saja butuh banyak perhitungan
Sedangkan aku di sini diacuhkan tak di anggap

Hai langit, ingatkah ketika kita terbentuk? 
Waktu ada diantara kita
Semakin lama waktu berjalan semakin jauh jarak terbentuk
Kini walau jauh tetap ku syukuri
Aku dan kamu kan selalu bagian yang tak terpisahkan ikatan
Oleh manusia yang selalu berangan angan
Akan kebahagiaan hidup dan kemuliaan. 

Semoga bahagia selalu untuk kita, langit dan bumi

Sabtu, 10 Oktober 2020

Namaku, Abram Braja Astika (5) END

27/09/2020
Suatu hari Abram sedang duduk di lobby kantor sembari menunggu Ibunya. Tidak lama datang seorang pria berparas amerika berambut pirang sebahu seperti Brad Pitt di film World War Z yang semalam ditonton Ibunya menyapa Abram, "Hello boy, selamat sore" dia menyapa akrab dengan sedikit logat asingnya. "Selamat sore Om" Abram membalas sapaannya dengan ragu karena dia bingung harus menyapa dengan panggilan mister, om atau pak. "Bolehkah saya duduk disini?" tanyanya kepada Abram. "Silahkan" jawab Abram singkat. 

Tidak lama Ibu datang menghampiri Abram dan mengajak Abram pulang. Setelah sadar Ibu kenal dengan orang di samping Abram kemudian ia pun menyapanya "Hello Adrian? lama tidak jumpa" sapa Ibu dengan akrab.  "Oh hello Tika, baik 

Jumat, 02 Oktober 2020

Namaku, Abram Braja Astika (4) Mencari jawaban terbaik

Ibu tak bisa tidur malam ini, bukan karena suara bising tetangga kamar kost nya yang sedang ada tamu. Tetapi karena keputusannya beberapa tahun  yang lalu untuk menikah. Hidupnya benar-benar sangat berubah. Saat itu ia berpikir menikah merupakan hal bahagia yang diidam-idamkan setiap pasangan. Hal yang tidak boleh berulang saat dilakukan. Karena ucap manis janji setia sehidup semati. 

Namun takdir berkata lain. Janji setia pun hancur, bukan dari mulut orang lain. Tapi dari mulut pasangan itu sendiri. Ku mencari bahagia, bukan petaka. Ku ingin kasih sayang, bukannya hilang. Tangisnya malam itu pecah kembali. Menjadi wanita seutuhnya itu berat sekali pikirnya. Bukan kecantikan tujuan utama ternyata, tetapi harga diri yang harus dijaga, terlebih kini ia adalah seorang Ibu. Ibu yang anaknya sudah mulai sekolah. Sudah mulai mengerti akan banyak hal. Sudah mulai penasaran tentang kehidupan. Sudah mulai bertanya dengan mantap, "bu sebenarnya ayahku siapa, sekarang dimana?".

Abram bertanya seperti itu karena sebelumnya ada acara pertemuan orangtua dan anak di sekolah. Cukup unik memang acara tersebut. Setiap anak diminta tampil di depan para orang tua untuk menceritakan tentang dirinya kepada orang orang yang hadir. Selain melatih kepercayaan diri pada anak. Hal tersebut juga merupakan momen untuk mendekatkan orang tua dengan wali murid. Karena orang tua maupun wali murid ingin hasil yang terbaik untuk anak-anaknya. 

Acara tersebut dilaksanakan pada tengah semester di semester ke dua. Anak-anak saling bergantian untuk tampil di aula. Ruangan itu cukup untuk semua orang yang hadir. Abram maju tidak yang paling pertama. Urutan maju bukan berdasarkan absen seperti kebiasaan lama tetapi berdasarkan urutan tanggal lahir. Ia lahir di Januari. Ada tujuh anak lahir di bulan itu dan Abram ada di urutan ke tujuh.

Tiba saatnya Abram maju, dengan mudahnya ia memperkenalkan diri dan keluarga, bercerita bagaimana ia lahir, peristiwa senang dan sedih yang sudah ia rasakan. Cerita ia sampaikan lancar sekali. Terutama kejadian pindah rumahnya karena memang belum genap satu tahun itu terjadi. 

Anak yang lain diminta bertanya setelah seseorang selesai berbicara. Tiba saatnya waktunya teman-temannya bertanya. Rata-rata semua orang tertarik dengan cerita terbakarnya rumah yang Abram tinggali dulu. Namun ada satu pertanyaan yang membuat Abram terdiam sejenak, dan menjawab dengan singkat dan pelan "aku tidak punya ayah". Jawaban itu muncul karena dalam cerita yang ia sampaikan tidak ada satu kalimat ayah atau memperkenalkan siapa ayahnya. Setelah Abram selesai tampil, semua orang pun bertepuk tangan. Esoknya teman yang bertanya hal tentang ayah meminta maaf pada Abram karena bukan maksudnya membuat Abram bersedih oleh hal yang ia alami tersebut. 

Abram memang anak yang supel, sederhana, baik dan pintar. Tidak heran rasanya murid yang lain mengidolakannya dalam hal pertemanan. Namun setelah hari itu Abram menjadi sering melamun. Rasa penasaran menyelimuti dia seketika. Sampai pada saatnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada Ibunya di malam itu "bu sebenarnya ayahku siapa, sekarang dimana?".


Sabtu, 26 September 2020

Namaku, Abram Braja Astika (3) Adaptasi

Setibanya Ibu di Indonesia ia kemudian bergegas ke TPU Tanah Kusir dimana Kakek akan dimakamkan. Ini merupakan permintaan Kakek sendiri semasa hidupnya untuk dimakamkan disini, tepat disamping Nenek yang sudah lebih dulu "pergi" satu tahun sebelum kelahiran Abram. 

Kesulitan demi kesulitan silih berganti menghampiri. Keluarga kecil ini tengah berjuang keras membuat kehidupan kembali "normal". Rumah yang hampir terbakar habis dijual cepat dengan harga murah oleh Ibu. Ini dilakukannya karena bagi dirinya sangat sulit untuk merenovasi rumah ini dengan modal terbatas.  Kemudian jika tidak cepat dijual akan semakin tidak laku karena nanti akan melekat julukan rumah hantu karena terbengkalai. 

Untuk sementara mereka berdua tinggal di rumah kost dibelakang kantor tempat Ibu bekerja di Kantor Kemlu RI. Ia memutuskan tinggal disitu karena lingkungan kost yang cukup dikenal karena para penghuninya merupakan teman sekantornya. 

Sebagai single parent Ibu harus berjuang lebih keras untuk membesarkan Abram kecilnya. Sebelumnya ia sangat terbantu oleh Ayahnya namun kini sedikit demi sedikit pikirannya menjadi sangat bercabang antara pekerjaan, mengurus anak dan yang lainnya. Kesibukan dalam pekerjaannya saat ini memungkinkan Abram kecil akan kehilangan sentuhan kasih sayang keluarga. 

Beruntungnya Abram cukup tegar dan dewasa menghadapi cobaan yang menghapiri. Mengingat usianya yang akan memasuki sekolah dasar, ia tidak meminta macam macam seperti anak seumuran Abram lainnya. Didikan sang kakek sangat berguna bagi Abram karena ia tumbuh menjadi anak yang sederhana. Walaupun ia sangat dimanja oleh kakeknya, ia selalu ditanamkan bagaimana rasa bersyukur apapun hal yang ia akan hadapi di depan, baik itu kesenangan atau kesulitan. 

Berdasarkan saran dari teman sekantor Ibu, Abram didaftarkan di sekolah dasar sekitaran Menteng karena tidak terlalu jauh dari rumah kost tempat ia tinggal. Setiap pagi Abram selalu diantar oleh Ibunya kesekolah dan jika waktunya pulang Ibunya akan izin keluar kantor dan menjemput Abram mengantar kerumah dan kembali lagi ke kantor. Tidak jarang pula Abram ikut dibawa ke kantor sembari menunggu jam pulang kantor. 

Orang-orang di kantor cukup mengerti keadaan mereka sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan aktifitas ibu dan anak ini mengingat reputasi baik yang sudah Ibu bangun dan juga Abram yang tidak pernah rewel ketika berada di kantor. Dari sini justru Abram belajar bagaimana kehidupan orang dewasa, tentunya dengan sudut pandang kacamata anak-anak. 


Kamis, 03 September 2020

Namaku, Abram Braja Astika (2) Kehilangan

Abram Braja Astika. Dia tumbuh seperti anak anak pada umumnya. Suatu keajaiban baginya. Mengingat proses kelahirannya yang prematur, tumbuh kembangnya justru "mengejar" kelahiran normal. Itu semua tidak terlepas dari peran kakeknya. Ia selalu memantau asupan gizi cucu dan anak semata wayangnya sehingga ibu dan anak selalu sehat. 

Waktu berlalu hingga Abram kecil sudah bersekolah  di taman kanak-kanak. Anak anak di masa ini sangat aktif dan ceria. Rasa ingin tau akan segala hal pun sangat besar. Terlihat ketika dia bertanya, mengapa ikan tidak tidur, bagaimana cara semut berbicara, atau apa yang terjadi ketika matahari tidak ada. Ketika dia di tanya oleh ibu guru apa cita-citanya, lantas ia menjawab "menjadi pilot bu". Semua teman-teman dan ibu guru pun mengemangatinya. Abram kecil menjadi idola karena kecerdasannya
 di atas rata-rata. Mungkin akibat dia sering sekali berbicara tentang segala hal dengan kakeknya. 

Kakek Abram menjadi sosok seorang " ayah" bagi Abram kecil. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Saat Abram akan masuk sekolah dasar, kakek dia satu satunya yang selalu menemani masa kecilnya harus berpulang terlebih dahulu. Duka yang sangat mendalam diterimanya saat itu. 

Ibunya saat itu sedang menjalani dinas ke Taiwan. Mengurus kasus TKI yang akan di eksekusi bersama rekan kantornya di Kemenlu. Mendengar kabar tersebut, dia memutuskan pulang. Satu hal yang dipikirkannya sekarang, bagaimana keadaan anakku sekarang. 

Kakeknya mengalami serangan jantung. Setelah ia dan cucunya menyelamatkan diri dari kepulan asap kebakaran. Kedai makanan di samping rumahnya terbakar dan menyebabkan sebagian rumahnya ikut terbakar.

Abram tinggal sementara dengan ibu guru tk tempat ia belajar yang rumahnya tidak jauh dari rumahnya. Ia tinggal disana sembari menunggu kepulangan ibunya. Mengingat di tempat ia tinggal tidak ada satupun keluarganya disana. Dalam hati Abram berharap "ibu cepatlah pulang".


Selasa, 01 September 2020

Namaku, Abram Braja Astika (1)

Cerita ini terinspirasi karena kegabutan menunggu hasil SBMPTN 5 tahun lalu. Daripada numpuk di draft mending diUpload saja lah walau belum selesai, kali aja bisa selesai ceritanya, hahaha. Enjoy. 


Sore itu, ditengah hujan yang lebat dan bergemuruh. Seorang wanita mengendarai mobil sembari menangis usai menghadiri sidang perceraian ditengah masa hamil  di usia 28 minggu. Tangisnya sangat berat, namun ia mencoba kuat, mengingat posisinya saat itu hamil tua yang sejatinya butuh pendamping untuk masa masa sulit. Namun apadaya, yang ia terima justru kebalikannya. Harus berjuang sendiri bersama calon buah hati. 

Aku memanggil dia dengan sebutan ibu. 

Sore itu pula aku terlahir di muka bumi. Kesedihan tengah melanda akibat perceraian, disaat yang sama juga ibuku mengalami kecelakaan tunggal. Aku terpaksa dilahirkan mengingat keselamatan ibu dan anak karena imbas kecelakaan yang membuat ibu mengalami Abruptio plasenta yang membuat sang ibu harus segera melakukan operasi cecar karena perdarahan hebat disebabkan lepasnya plasenta yang merupakan impact dari kecelakaan tersebut.

 Beruntungnya ibu dan aku selamat. 

Selama ini ibu dan aku tinggal bersama kakekku. Kakekku berprofesi sebagai seorang dokter yang kebetulan juga bekerja di rumah sakit di tempat dimana ibu dioperasi. Kakekku ikut menangis kala itu melihat anaknya terbaring sendiri. Namun bersyukur karena keduanya bisa diselamatkan, ditengah situasi yang memilukan. 

Seminggu ibu dan aku diopname di rumah sakit. Mengingat kondisi aku dan ibu yang sangat lemah pasca melahirkan. Saat itu seorang pria yang harusnya bertanggung jawab atas kelahirannku tidak pernah muncul batang hidungnya. Bahkan sampai kami diizinkan pulang oleh rumah sakit. Dimasa sulit aku bertahan hidup kakek memberikan nama kepadaku
         "Abram Braja Astika"
Sembari meniatkan dalam hati "akan ku jaga dirimu wahai anak yang kuat". Arti namanya menurut kakekku cukup sesuai karena aku dengan percaya dirinya ditengah badai petir kehidupan terlahir ke dunia ini. 

-bersambung hingga upload selanjutnya