kegiatan gue

kegiatan gue
From Mt. Sumbing With SR

Jumat, 02 Oktober 2020

Namaku, Abram Braja Astika (4) Mencari jawaban terbaik

Ibu tak bisa tidur malam ini, bukan karena suara bising tetangga kamar kost nya yang sedang ada tamu. Tetapi karena keputusannya beberapa tahun  yang lalu untuk menikah. Hidupnya benar-benar sangat berubah. Saat itu ia berpikir menikah merupakan hal bahagia yang diidam-idamkan setiap pasangan. Hal yang tidak boleh berulang saat dilakukan. Karena ucap manis janji setia sehidup semati. 

Namun takdir berkata lain. Janji setia pun hancur, bukan dari mulut orang lain. Tapi dari mulut pasangan itu sendiri. Ku mencari bahagia, bukan petaka. Ku ingin kasih sayang, bukannya hilang. Tangisnya malam itu pecah kembali. Menjadi wanita seutuhnya itu berat sekali pikirnya. Bukan kecantikan tujuan utama ternyata, tetapi harga diri yang harus dijaga, terlebih kini ia adalah seorang Ibu. Ibu yang anaknya sudah mulai sekolah. Sudah mulai mengerti akan banyak hal. Sudah mulai penasaran tentang kehidupan. Sudah mulai bertanya dengan mantap, "bu sebenarnya ayahku siapa, sekarang dimana?".

Abram bertanya seperti itu karena sebelumnya ada acara pertemuan orangtua dan anak di sekolah. Cukup unik memang acara tersebut. Setiap anak diminta tampil di depan para orang tua untuk menceritakan tentang dirinya kepada orang orang yang hadir. Selain melatih kepercayaan diri pada anak. Hal tersebut juga merupakan momen untuk mendekatkan orang tua dengan wali murid. Karena orang tua maupun wali murid ingin hasil yang terbaik untuk anak-anaknya. 

Acara tersebut dilaksanakan pada tengah semester di semester ke dua. Anak-anak saling bergantian untuk tampil di aula. Ruangan itu cukup untuk semua orang yang hadir. Abram maju tidak yang paling pertama. Urutan maju bukan berdasarkan absen seperti kebiasaan lama tetapi berdasarkan urutan tanggal lahir. Ia lahir di Januari. Ada tujuh anak lahir di bulan itu dan Abram ada di urutan ke tujuh.

Tiba saatnya Abram maju, dengan mudahnya ia memperkenalkan diri dan keluarga, bercerita bagaimana ia lahir, peristiwa senang dan sedih yang sudah ia rasakan. Cerita ia sampaikan lancar sekali. Terutama kejadian pindah rumahnya karena memang belum genap satu tahun itu terjadi. 

Anak yang lain diminta bertanya setelah seseorang selesai berbicara. Tiba saatnya waktunya teman-temannya bertanya. Rata-rata semua orang tertarik dengan cerita terbakarnya rumah yang Abram tinggali dulu. Namun ada satu pertanyaan yang membuat Abram terdiam sejenak, dan menjawab dengan singkat dan pelan "aku tidak punya ayah". Jawaban itu muncul karena dalam cerita yang ia sampaikan tidak ada satu kalimat ayah atau memperkenalkan siapa ayahnya. Setelah Abram selesai tampil, semua orang pun bertepuk tangan. Esoknya teman yang bertanya hal tentang ayah meminta maaf pada Abram karena bukan maksudnya membuat Abram bersedih oleh hal yang ia alami tersebut. 

Abram memang anak yang supel, sederhana, baik dan pintar. Tidak heran rasanya murid yang lain mengidolakannya dalam hal pertemanan. Namun setelah hari itu Abram menjadi sering melamun. Rasa penasaran menyelimuti dia seketika. Sampai pada saatnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada Ibunya di malam itu "bu sebenarnya ayahku siapa, sekarang dimana?".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir, sematkan komentar jika berkenan. Have a nice day!