kegiatan gue

kegiatan gue
From Mt. Sumbing With SR

Senin, 08 Januari 2024

Audiovisual

Pengalaman hidup adalah konten audiovisual yang Tuhan berikan kepada kita sepanjang waktu. Banyak momen yang tidak terekam dalam kehidupanmu yang mungkin kamu rindukan sekarang. Atau mungkin kamu melewatkan sesuatu dengan suatu hal yang lain. Tapi ternyata aku sadar selama ini Tuhan lah pembuat skenario terbesar dan tidak ada yang dapat menyainginya. Bayangkan saja disaat kamu bekerja untuk dirimu sendiri dan harus merasa lelah, itulah skenario yang harus kamu lakukan. Dia yang telah mengatur semua kejadian dari awal hingga akhir pertunjukan. Peran tergantikan setiap masanya, diri kita punya waktu dan masanya sendiri. Akan tiba masanya kita digantikan dengan orang yang baru. Tapi Mastermind tidak akan pernah tergantikan. 

Aku telah kembali, itulah hal ingin kulakunan. Aku sadar aku adalah penikmat konten audiovisual yang dinamakan alam semesta. Mungkin bayangan kita apakah terlalu besar untuk menikmati sebuah alam semesta, bagaimana caranya meraih itu semua. Tentu tidak. Waktu adalah produk alam semesta yang akan terus berjalan dengan batas yang telah ditentukan. Secara tidak sadar kita menikmati konten yang diberikan-Nya sepanjang hari. Perasaan sedih, senang, suka, bahagia, haru, duka dan bahagia berjalan diatas waktu yang telah ditentukan. Pernahkah kamu melihat sebuah pertunjukkan, film atau cuplikan video dimana konten tersebut sebenarnya lucu, menarik, atau menghibur tapi kamu merasa biasa saja, atau pernahkah kamu merasa sedih, senang, atau bahagia secara tiba tiba padahal tidak ada hal yang memicu untuk kamu menerima perasaan tersebut. Itulah garis waktu, dimana latar tempat, suasana, dan perasaan sudah ditentukan sebelum adanya alam semesta. Dan itulah yang kunikmati sekarang. 

Pengalaman audiovisual selama kita hidup tidak akan pernah bisa direka ulang dengan kondisi yang sama. Mungkin kamu pernah mendengar kisah orang tua yang bangga saat pertama kali melihat anaknya bisa berjalan. Atau kisah seorang pendaki gunung yang pertama kali menapaki puncaknya. Hal tersebut adalah pengalaman audiovisual yang bisa dirasakan langsung oleh orang tersebut, bisa dibagikan, namun tidak dengan waktu dan pengalaman yang sama. Siapakah sutradaranya? bukan orangtua tersebut, bukan anak tersebut, bukan pula seorang pendaki gunung. Itu semua terjadi karena ada garis waktu yang terus berjalan.


Pemandangan edelweis di Mandalawangi saat musim hujan 2013. Tidak terlalu menarik bukan? Tapi untuk aku pengalaman melihat edelweis ini yang mengantarkanku ketitik ini. Media ini ada karena aku ingin menuliskan hal mengenai pengalamanku untuk melihat ini. Bayangkan saja, untuk pertama kalinya aku mendaki gunung nol persen pengalaman namun garis waktu sudah berkata untuk kamu berada di tempat tersebut pukul sembilan malam padahal normalnya orang banyak mungkin ada di situ saat matahari mulai terbenam. Aku saat itu merasakan yang namanya frustasi, ragu dan bertanya-tanya, untuk apa aku disini. Sepertinya aku menyesal ikut. Karena saat itu serangan keram otot selalu menghampiri. Beruntung ada orang yang lebih berpengalaman ikut pada saat itu memotivasi untuk tetap berjalan, dengan sabar dan tidak mencoba mengintervensi karena yakin pada akhirnya kita akan sampai pada waktu yang sudah ditentukan. Untuk aku yang sekarang mungkin tau mengapa aku terkena serangan keram otot, tapi itulah pengalaman pertama kali. Tidak akan mudah untuk dilupakan.


Hal yang kupelajari saat mengingat foto ini adalah untuk tidak akan pernah memakai jacket saat mendaki, kalau hujan gunakan mantle hujan dan untuk aku tidak perlu sarapan saat akan mendaki apalagi sialnya telur yang aku makan di warung makan saat sarapan agak lengket menuju basi. Bodohnya diriku masih aja diterusin makannya sampai habis. 


Hal yang ku ingat dari foto ini adalah aku bisa sampai disitu adalah momen pertama kali memang adalah sebuah ujian, kali kedua, ketiga dan selanjutnya memang masih ujian, tapi bagaimana kita menyikapi hal-hal tersebut dari pengalaman yang sudah kita punya itulah ujian sesungguhnya. Karena saat kali kedua aku disini hanya lewat begitu saja, kali ketiga ku sampai sini aku bersama orang-orang baru dan harus bisa menyikapi hal yang sama saat aku pertama kali datang kesini. Dan kali keempat aku disini aku juga bersama orang baru bedanya ini lebih banyak dan tanggung jawab lebih banyak karena aku tidak tau latar belakang mereka dan harus menjaga agar perjalanan agar lebih kondusif.


Akhir Agustus 2019 nemenin rombongan Fapet. Meskipun turunnya aku misah sendiri, dibilang nyasar sih nggak toh bawa gps jadi tau kalau pindah punggungan atau turun ke lembah bakal tau nggak. Ternyata sampe kandang badak lebih dulu beda 30 menit, jadi aku sendiri yang khawatir anak-anak orang nyasar atau nggak. Alhamdulillahnya sampai dengan selamat dan momen ujian sebenarnya adalah pas pulang ke Bogor karena hari itu 31 Agustus bertepatan dengan 1 Muharram, dan pawai obor tiap pondok pesantren turun semua dari arah puncak sampai ciawi. Moment lucunya adalah ketika kita pikir sudah melewati rombongan pawai obor, ternyata 1 km didepannya ada rombongan pawai obor dari pesantren yang berbeda. Pegelnya luar biasa, mana harus kembaliin tenda sewaan ke rumahnya si Ken dan pasti pegel banget yang dirasain si Iren pas duduk di boncengan pas kena macet. Dan yang kuingat dari sini adalah jangan berpergian ke puncak di malam tanggal 1 Muharram.


Suatu saat aku pasti balik kesana kalau memang garis waktunya aku harus berada disana. Dari aku yang kangen puncak mandalawangi pengalaman audiovisual suara langkah kaki, kicauan burung, suara ranting patah, uap air dari nafas dan terlebih aku pakai kacamata sekarang, mungkin ada pengalaman lain berkaitan dengan visual nanti. 
Untuk Mandalawangi, Hati-Hati di Jalan. Aku akan kembali jika memang sudah waktunya.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir, sematkan komentar jika berkenan. Have a nice day!