Ini Ruly. Usianya 19 tahun. Hanya lulusan SMP, dropout ketika SMK karena persoalan biaya. Bapaknya penjual kacang keliling yang telah menikah sebanyak 4x. Ruly sendiri anak dari istri ketiga, Ibunya meninggal ketika ia berusia 1 tahun. Kini, ia hidup bersama neneknya yang sudah sangat renta.
Kamis kemarin ia datang ke rumah, Ibuk yang menerimanya. Ruly menawarkan jasa cek kesehatan cukup 50 ribu rupiah. Katanya tekanan darah, kolestrol, kencing manis dan segala penyakit lain akan diketauhi dengan "alat sakti Ruly". Sehari ia ditarget 5 pelanggan. Dan akan mendapatkan komisi 2.1jt dalam sebulan kalau target terpenuhi. Kalau tidak ya tidak dapat apapun. Kamis kemarin adalah hari ke 17 Ruly bekerja dan ia masih belum mendapatkan satu pasienpun. Wajar sih, di era seperti sekarang siapa yang akan percaya dengan check up kesehatan 50 ribu dan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki latar belakang medis?
Ketika Ibuk bertanya kenapa tidak mencari pekerjaan lain. Ruly pun menjawab telah berusaha melakukannya. Tetapi ia selalu ditolak ketika melamar. Entah itu menjadi tukang cuci motor atau penjaga cafe. Alasannya ada dua, Ruly tidak memiliki motor (ia datang ke rumah kami dengan jalan kaki) dan Ruly tidak memiliki ponsel (praktis ia tak bisa dihubungi). Ibuk menawarkan untuk mencarikan pekerjaan lain untuk Ruly. Untuk menunjukkan keseriusan Ruly pun berniat meninggalkan KTP. Ibuk menolak dan memintanya untuk datang Senin pagi.
Hari ini Ruly kembali, ia datang sedikit terlambat karena kebetulan semua orang sudah berangkat. Tinggal aku yang dirumah, mahasiswa semester 5 yang sedang malas untuk kembali ke perantauan dan memilih skip kelas. Aku bingung dan langsung menelfon Ibuk karena ketika saya membuka pintu kalimat pertama yang ia keluarkan adalah menyebut nama Ibu saya dengan lengkap dan bertanya apakah sedang di rumah. Setelah menelfon Ibuk untuk konfirmasi akhirnya aku mendapatkan informasi tentang Ruly. Alhamdulillah, Ibuk sudah mendapatkan pekerjaan untuk Ruly dan meminta Ruly untuk datang ke kantor Ibuk. Karena Ruly kemari jalan kaki (jarak rumah Ruly dan Rumah saya sekitar 6km) saya menawarkan untuk memesankan ojek online saja. Dan ditolak mentah-mentah olehnya. Katanya ia tidak punya uang untuk membayar. Saya pun menjawab "Loh mas saya yang bayar gapapa" Dan lagi tamparan keras hadir dari Ruly "Saya ini mau cari kerja mbak bukan meminta-minta, saya izin pergi dulu, terimakasih". Ruly tersenyum dan berlalu. Saya diam didepan pintu.
Semesta itu lucu ya. Aku sempat kesel karena ada orang yang mengetuk pintu dan menggangu tidurku. Tetapi Tuhan mengingatkan aku tentang orang yang sudah harus memikirkan bagaimana untuk bertahan hidup.
Sepertinya beban yang selama ini saya rasa berat mungkin hanya remahan kerupuk bagi Ruly. Ruly, Terimakasih telah mengetuk pintu di senin pagi pukul sembilan. Bukan di jam tujuh pagi karena pasti bukan aku yang akan membukanya. Atau nanti sore karena aku harus kembali ke Surabaya sore ini.
Aku Alysia dan sedang skip kelas minggu terakhir karena merasa terlalu banyak beban dan memilih untuk pulang ke rumah ku di Bandung. Bandung tempat yg nyaman bagiku. Keluarga, teman, kuliner , wisata, bahkan bangku kecil di taman bisa membuatku betah seharian disana. Selagi tidak musim liburan tentunya karena aku lebih memilih diam dirumah karena macet di sepanjang perjalanan. Bahkan menjauh dari komplek perumahan saja sangat sulit. Bandung dan seluruh cerita di dalamnya. Favorit ku adalah mengantri untuk makan seporsi bacang Braga yang hangat di tengah hiruk pikuk kota bandung. Sungguh aku sangat sulit beranjak untuk kembali ke perantauan, meski masih di pulau yg sama rasanya. Masih banyak yg harus aku kunjungi disini. Terlebih teman temanku masih banyak yg berdomisili di bandung. Kemarin saja aku baru menghabiskan hari terakhir ku di sini bersama temanku di sebuah kedai kopi di Asia Afrika.
15/5/2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir, sematkan komentar jika berkenan. Have a nice day!