https://youtu.be/Vn4SaqBdSiY?si=GgFRxK8k0svI7gjp
Seharian mencari jawaban, risau. Teringat pernah memainkan game dalam lagu ini waktu kecil namun tidak pernah tamat karena memang panjang ceritanya. 2018 dan covid, saat itu buntu, mencoba membangkitkan childhood memories dengan memainkan ini. Saat kecil game pernah jadi pelarian dan pengalihan dari apa kenyataan yang sedang terjadi. Berharap misi pelarian akan berhasil kembali. Bermain peran merencanakan skenario seindah mungkin, jika kecewa dengan hasil bisa kembali ke tempat dimana kita inginkan.
Ketika sudah dimainkan ternyata bukan tentang menamatkan gamenya. Di kenyataan hidup beberapa kali ingin mengulang momen yg terlewatkan. Jelas tidak akan pernah bisa. Sampai saat jawaban paling rasionalya adalah karena belum bisa memaafkan sepenuhnya segala hal yang terjadi. Memaafkan diri sendiri apapun kesalahan yang diperbuat. Memang ada kalanya orang lain terdampak atas kesalahan kita. Tapi diri ini kerap kali terlupakan karena dialah orang yang pertama kali dan selalu merasakan yang terlah diperbuat. Maafkan aku saat memilih tidak berbicara, saat memilih untuk diam. Skenario yang berjalan kini mungkin sebagian besar juga salahku, tentunya tanpa mengesampingkan ketetapanNya.
Saat ini memang terlambat. Maafkan aku untuk sekedar cerita pun tidak bisa. Maafkan aku yang memilih pergi. Maafkan aku yang tidak pernah dewasa. Tidak ingin selalu larut dalam kesedihan namun perasaan itu kembali dan kembali lagi. Saat perasaan itu kembali, aku mohon untukku maafkan aku. Semoga dengan memaafkan, sesulit apapun skenario hidup saat itu melodi yang terdengar selalu menenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir, sematkan komentar jika berkenan. Have a nice day!